
Bila mengingat rentetan perjalanan hidup dan kelurgaku, sungguh rasanya melelahkan. Akan tetapi seharusnya aku bersyukur kepada-Nya masih diberi kesempatan menghirup udara dan menikmati keindahan dunia ini. Tidak halnya dengan almarhum kakak lelakiku yang sejak kecil lebih disayang Allah dan kembali ke pangkuan Rabb-Nya. Aku sering merasa rindu padanya, terkadang aku membayangkan ia setampan lelaki yang menimpukan seluruh cintanya padaku. Apakah sejahil lelaki yang selalu memanggil namaku semaunya? Ah, aku sungguh ingin melihat wajahnya tenggelam di wajah lelaki yang menyayangku. Agar aku tak selalu dihajar rindu, namun hanya lewat doa aku menyapanya. Ibu pun tak punya selembar foto masa kecil almarhum Mas Bayu karena sudah terseret banjir di Jakarta, seperti cerita yang aku dengar dari Ibu.
Berbicara mengenai Ibu, sungguh hatiku meras terharu. Bagaimana perjuangannya membesarkan aku dan adikku kini. Merawatku sepenuh cinta dan kasih sayangnya dengan tulus. Apalagi sejak kecil, terutama aku sering merepotkan dan sakit-sakitan. Orang tuaku pontang-panting menyembuhkan semua penyakit yang menderaku. Aku merasa sebagai anak pertam (yang hidup) belum bisa membahagiakan Ibu. Seperti kebahagian yang beliau berikan padaku. Belum bisa sepenuhnya membalas kebaikan orang tuaku.
Sejak kecil aku sudah merasakan arti perjuangan hidup. Bagaimana Ibu dan bapakku bekerja keras demi membesarkan buah hatinya. Semua pekerjaan Ibu lakukan, mulai sebagai tukang mencuci dan menyeterika pakaian orang hingga buruh pabrik. Sedangkan Bapak membanting tulang sebagai ku bangunan. Berpanas-panasan dengan peluh keringat yang mengucur. Tak pernah mereka merasa lelah demi menghidupi keluarga.
Aku dan adikku dilahirkan di kota metropolitan, Jakarta. Dengan segala hiruk-pikuk serta kerasnya hidup di kota. Memaksa kedua orang tuaku untuk mudik ke kampung halaman. Sesampai di desa, aku dan keluarga pun terpaksa menumpang di rumah nenek dari pihak bapakku. Aku kembali belajar adaptasi dengan lingkungan di di desa. Memuali segala sesuatunya dari nol. Beberapa bulan tinggal di desa, bapak memutuskan kembali merantau ke kota Jakarta. Meninggalkan aku, adik dan Ibu di desa.
Hidup ini benar-benar butuh perjuangan. Sepeninggal bapak ke kota, aku dan adik kembali melanjutkan sekolah kami yang sempat terputus karena pulang ke desa. Bapak kembali berjuang kerja di kota sendirian tanpa kami keluarganya. Sedang Ibu bekerja apa saja yang penting halal untuk meringankan beban bapak. Perjuangan dan pengorbanan tulus seorang Ibu sekaligus istri. Di desa Ibu menjadi buruh tani hingga kerja di pabrik rokok. Aku dan adik sekolah meski dengan biaya minim. Namun kehidupan penuh cobaan. Bapak terpaksa pulang kampung karena sepinya proyek bangunan yang ditanganinya di kota. Lantas kembali bekerja menafkahi kelurga di desa bersama Ibu. Makan ala kadarnya asal perut masih bisa terisi.
Keadaan ekonomi yang mendesak inilah, Ibu meminta izin pada bapak untuk merantau ke luar negeri. Mengikuti tawaran tetanggaku yang sudah lebih dulu merantau dan lumayan sukses hidupnya. Dengan berat hati bapak pun mengizinkan karena desakan Ibu. Meski sesungguhnya mencari nafkah merupakan tanggung jawab bapak. Namun Ibu bersikeras ingin membantu meringankanya. Usai melalu tahapan proses di PJTKI, Ibu berangkat ke negara Hong Kong. Aku mengiringi kepergiaanya dengan derai tangis. Aku harus berpisah denganya di saat usiaku masih kecil. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas 4 SD, sedangkan adikku kelas 2 SD di sekolah yang sama pula. Waktu kian berlalu hingga beberapa bulan di rantauan, Ibu berkirim kabar keadaanya di sana. Aku dan adikku harus bisa hidup mandiri. Melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri. Mulai dari menyapu, mencuci baju hingga memasak walau terkadang masih dibantu bapak.
Tanpa terasa waktu merambat jauh hingga tiba masa kontrak kerja Ibu habis dan pulang ke Indonesia. Aku pun bahagia menyambutnya. Bisa bercengkrama lagi dengan Ibu. Tapi kebahagian itu belum bisa kunikmati untuk seterusnya. Ibu memilih kembali bekerja ke luar negeri. Ibu punya banyak harapan untuk keluarganya. Bisa mempunyai rumah sendiri yang artinya tak lagi menumpang di rumah nenek. Anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi minimal SMA. Tekad itu pun mengakar di hati Ibu hingga rela jauh dari keluarga. Bapak tak bisa mencegahnya. Hari demi hari kulalui tanpa belaian kasih sayang Ibu di sisiku, hingga aku memasuki bangku SMP. Namun aku tahu semua pengorbanan Ibu demi keluarga. Ibu terpakas jauh dariku, menahan rindu yang setiap saat meruah di hatinya. Berjuang dengan segala resiko di negeri orang. Agar keluarga dapat keluar dari garis kemiskinan yang menghimpit.
Hingga suatu hari, kami mendapat kabar Ibu sakit dan harus opname ke rumah sakit di Hong Kong. Sungguh hatiku sedih mendengarnya. Membayangkan bagaimanakah keadaan Ibu saat itu? Berjuang sendirian menahan sakit tanpa keluarga mendampinginya. Menjaga dan merawat Ibu saat membutuhkan pertolongan. Berita ini bagaikan petis di siang bolong. Lebih mengejutkan lagi, Ibu harus menjalani operasi. Ada nanah yang membusuk di tulang sum-sum bagian tubuhnya. Antara pingga dan paha, namun Ibu tetap berjuang dan tegar menghadapinya. Sungguh besar pengorbananya untuk keluarga. Setelah pasca operasi, Ibu terpaksa pulang ke Indonesia. Otomatis kontrak kerjanya harus terputus. Semua biaya operasi telah ditanggung pihak asuransi. Setidaknya sedikit meringankan beban Ibu dan kami keluarganya di Indonesia.
Aku tak bisa ikut menjemput Ibu di bandara, karena bapak melarangnya. Terpaksa aku menunggu di rumah, sedang yang menjemput bapak dan bulik di Malang. Saat sampai di rumah, hatiku merasa miris melihat keadaan Ibu. Beliau belum bisa banyak bergerak ke mana-mana. Hanya bisa berbaring di tempat tidur. Bila ingin ke kamar mandi pun harus menggunakan tongkat penyangga yang dibawa dari Hong kong. Aku hanya bisa berdoa tanpa henti untuk kesembuhannya. Berharap Ibu bisa sembuh total seperti sediakala. Aku dan keluarga merawat Ibu dengan penuh kesabaran. Sesabar hati Ibu menahan rindu dan sakitnya. Segala pengobatan Ibu jalani agar cepat pulih. Mulai pengobatan medis yang juga dibantu bulik. Karena kebetulan 2 bulikku bekerja di bidang kesehatan.hingga pengobatan altrenatif. Akhirnya semua upaya itu perlahan tapi pasti membuahkan hasil.Ibu mulai pulih meski belum sepenuhnya,yang dulu harus pakai tongkat sekarang tidak.Tapi harus tetap hati-hati jangan sampai terjatuh karena akibatnya akan fatal.Hingga 8 bulan pun berlalu Ibu sudah merasa sembuh betul, walaupun kadang masih minum obat yang dianjurkan bulik.
Tiba-tiba Ibu masih berkeinginan kembali kerja ke luar negeri lagi.Meski kami keluarganya sempat menolak keras.Tapi Ibu tetap ingin pergi.Ibu ingin melihat anaknya bahagia dan tetap melanjutkan sekolah.Karena saat itu aku hampir memasuki bangku SMA. Harapan ibu tinggal menamatkan anaknya sekolah dan membayar hutang –hutang keluarga. Lagipula cita-cita ibu memiliki rumah telah terwujud meski tak sebagus milik tetangga yang juga keluar negeri. Meski baru operasi yang meninggalkan 3 luka sayatan, tak menyurutkan perjuanganya untuk keluarga. Dan semua itu kini telah Ibu wujudkan. Aku dan adikku bisa tamat SMA.Walaupun kedua orang tuaku hanya tamatan SD dan SMP. Aku sangat berterimakasih dan bersyukur pada ALLAH SWT.Masih memberi Ibu kesehatan hingga kini. Akupun salut dan bangga atas pengorbanan dan perjuangannya.Kini disisa usia tuanya, aku ingin membalas semua kebaikan Ibu untukku dan keluarga.Meski apa yang aku berikan buat ibu tak sebanding dengan semua pengorbanannya untuku.Mulai mengandung 9 bulan, melahirkan dengan taruhan nyawa, menyusui serta merawatku hingga aku tumbuh sebagai perempuan dewasa.
Bukankah dalam agama menyebutkan sugra di telapak kaki Ibu? Aku ingin meraih surga bersama Ibu.
“Ibu, maafkan semua kesalahan dan kekhilafan anakmu ini, dan segala sikap yang kurang berkenan dihatimu,Bu. Aku belum bisa membahagiakan Ibu sepenuhnya, sesuai harapan-harapanmu.Tapi aku ingin suatu saat ibu bisa bangga dan bahagia dengan apa yang aku lakukan untukmu,Bu.Aku ucapkan terima kasih atas kasih sayang dan pengorbanan hidupmu yang tak bisa tergantikan dengan apapun padaku dan keluarga.Semoga aku bisa jadi anak yang shalehah dan berbakti pada Ibu, keluarga dan agamaku. Aku menyayangi dan mencintaimu, Bu…
By: Ivonie Zahra
Hong Kong, 30 Mei 2010
Tulisan lama yang saya revisi kembali ini diikutsertakan dalam kontes blog di http://www.anazkia.blogspot.com/ yang disponsori oleh http://denaihati.com/